KUBE Karang Taruna Desa Sie Disorot
![]() |
| ilustrasi |
Bima, jerat.co.id – Mental korup dan serakah warga negeri
ini seolah telah menjadi virus yang mewabah, tidak hanya oknum pejabat tinggi
yang dengan kekuasaanya mampu mengeruk keuntungan pribadi ratusan hingga
milyaran rupiah, bahkan oknum yang berlindung dibawah ketiak organisasi pun
tidak ketinggalan mencicipi uang rakyat ini.
Seperti di desa Sie kecamatan Monta kabupaten Bima NTB, dinilai
tidak jalan, Kelompok Usaha Bersama (KUBE) unggas senilai 18 juta rupiah, yang
dikelola kelompok Karang Taruna desa Sie semakin disorot.
Pasalnya kelompok peternakan itik yang diketuai oleh
Solihin ini tidak memberikan hasil sesuai yang diharapkan. Bahkan dana yang
bersumber dari Alokasi Dana Desa tahun anggaran 2016 tersebut raib tanpa bekas.
Padahal penyaluran dana itu dengan harapan agar para
pemuda yang tergabung dalam kelompok dapat mengembangkan usaha ternak itik
untuk digulirkan kepada calon anggota baru, yang kedepanya diharapkan akan
mampu menjadi salah satu sumber pendapatan anggota kelompok.
Tidak ada alasan yang jelas kenapa kelompok ini tidak
berjalan seperti yang diharapkan, namun pemuda lain tetap menginginkan
persoalan ini dapat diselesaikan hingga tuntas dan mendapatkan kejelasan hukum.
Wahyudin, S.Pd misalnya, ketua Bumdes desa Sie ini merasa
perlu untuk pihak kelompok mensosialisasikan perkembangan usaha bersama
tersebut, “Okelah jika itu gagal, namun harus ada dokumentasi yang jelas dilaporkan,
tapi pertanyaanya apa iya semua ternak tersebut mati seperti yang dilaporkan,”
ungkapnya selasa (21/11).
Pada kenyataanya menurut pemuda yang akrab disapa Yedon
ini bahwa ternak tersebut ada yang dijual dan juga ada yang dipotong, “Tidak
semua ternak itu mati, dan hal ini tidak harus dikatakan program tersebut gagal.
Maka intinya kelompok harus mempertanggungjawabkan keuangan desa yang telah
diterima.” ketusnya.
Sumber lain juga diantarannya Abdul Muis salah satu anggota BPD setempat saat ditemui di kediamannya mengatakan, "Tidak kita pungkiri ada ternak yang mati, namun tidak sedikit yang mereka potong untuk konsumsi. Kita selaku BPD telah meminta klarifikasi pada pengurus kelompok dan dilaporkan ada sisa anggaran yang nyangkut di pengurus. Dilain pihak ada anggota yang masih belum dibayarkan gaji atas upah pemeliharaan," ujarnya.
Sehingga menurut Muis, persoalan ini masih harus mendapatkan klarifikasi kembali dari pengurus kelompok, "Baik itu untuk urusan internal dengan hak anggota maupun pertanggungjawaban keuangan yang telah digunakan," papar Muis
Sementara berdasarkan pengakuan Farhan sekretaris desa,
keberadaan kelompok unggas ini bahkan sempat disorot BPD dan dibahas dalam
rapat tingkat desa, sayangnya saat rapat klarifikasi itu tidak sempat hadir, “Bahkan
setelah dihitung-hitung malah lebih dari 18 juta yang dituangkan dalam APBDes yang
seharusnya untuk 180 ekor namun setelah dihitung dan dituang kedalam RAB, hanya
mampu memenuhi 120 ekor,” terang Farhan.
Lanjutnya, perincian penggunaan anggaran kelompok dalam
catatannya diantaranya pembuatan kandang 2,5 jt, pembelian awal 70 ekor dengan
harga satuan 70 rb sebesar 5 jt. Yang kedua 3,5 jt untuk 50 ekor pembelian pakan
(pelet) 1 jt serta biaya perawatan 1 jt. 38 karung dedak sebesar 3,8 jt serta
pajak mencapai kisaran lebh dari 3 juta rupiah. “Seluruh anggaran itu kecuali
pajak, diterima oleh kelompok. Dalam waktu dekat kami akan menggelar pertemuan
kembali,” ujarnya.
Farhan mengaku, jalan atau tidaknya kelompok bukan
tanggunjawanya karena pemerintah desa hanya mencairkan anggaran sesuai
kebutuhan kelompok.
Ketua kelompok Solihin yang dikonfirmasi menjelaskan
masih ada sisa anggaran, dan itu akan disosialisasikan internal kelompok, “Nanti
akan saya gelar rapat bersama kelompok, anggaran masih ada sisa dan program ini
masih akan berlanjut sesuai dengan kesepakatan pada rapat internal kelompok
nantinya,” terangnya ditemui di simpasai selasa siang.
[Leo]


Post a Comment