Dibalik Kelangkaan Pupuk Bersubsidi di Kabupaten Bima
Jendela Redaksi
![]() |
| Personil Polsek Woha saat meninjau pupuk atas laporan warga, (foto : Gunawan hasan) |
Acap tahun
petani terus mengeluhkan kelangkaan pupuk bersubsidi, yang memaksa petani harus
membeli dengan harga yang sangat mahal. Kasus yang sama terus terulang kendati
upaya pemerintah terus dilakukan untuk memenuhi kuota kebutuhan pupuk ini.
Tahun ini,
pemerintah telah mencadangkan sekitar 15% melebihi kebutuhan setiap daerah agar
keluhan dan kisruh pupuk bersubsidi ini tidak terulang. Kenyataanya tetap saja
petani menjadi korban dan hal serupa dialami seperti sebelum-sebelumnya.
Mulai dari aksi
rebut pupuk hingga aksi penjarahan jatah sepertinya telah menjadi tontonan
rutin setiap tahun. Media sosial ramai memperbincangkan nasib para petani,
media masa penuh dengan berita terkait kelangkaan dan harga pupuk yang jauh
dari Hat, para aktivis dan mahasiswa turun ke jalan meneriakkan kepentingan
petani yang tidak terpuaskan.
Pertanyaannya,
apa sesungguhnya yang terjadi dibalik kelangkaan pupuk ini. ? berikut
penelusuran tim Jerat Group di
sejumlah wilayah di kabupaten Bima NTB.
Dari wilayah
Wera, Ambalawi dan Sape, ada indikasi sejumlah oknum yang bermain sehingga
mampu menguasai puluhan ton pupuk untuk diedarkan melalui pasar gelap. Proses mobilisasi pupuk ini
melalui jalur dalam Kota Bima menuju pasar Bolo dan Tente. (para pemain ini
belum dapat dipastikan, dan masih dalam proses investigasi-red).
Di wilayah Kae
(Palibelo, Woha, Belo, Monta dan Parado) dengan oreantasi kebutuhan akan pupuk
jauh lebih besar dibanding wilayah lain, menjadi sasaran utama beredarnya pupuk
(yang diduga telah berubah menjadi non subsidi) sehingga dijual bebas di pasar
Tente dengan harga jauh dari pupuk berlabel subsidi.
Selain edaran
gelap ini, kelangkaan pupuk juga diakibatkan
oleh pembagian yang tidak merata, ini juga diindikasikan telah terjadi
konspirasi antara pengecer atau Gapoktan dengan pihak distributor, dengan
alasan pupuk belum datang, dan alasan lain yang dibuat-buat. .... Bersambung


Post a Comment