Dari Seminar Nasional Mengoptimalkan Potensi Daerah Dan Merajut Kebersamaan
| saat pembukaan seminar |
Bima,
jerat.co.id - Seminar nasional dua tahun kepemimpinan IDP Dahlan yang digelar di Sondosia pada senin (26/2) dihadiri oleh ratusan peserta, dengan menghadirkan Narasumber Prof Dr Hamdan Zulfa, Dr Kadri, Dr Rusham, dan Wakil Ketua
DPR RI Fahri Hamzah.
Kegiatan ini merupakan agenda Tahunan yang dilaksanakan oleh
Pemerintah Kabupaten Bima untuk menghimpun ide dan gagasan dari para pakar,
Akademisi, Aktivis, Praktisi, dan pemerhati, baik yang berada di Kabupaten Bima
maupun yang berada di luar Kabupaten Bima. Dengan harapan Ide dan gagasan ini menjadi referensi bagi pembangunan Kabupaten Bima ke depan.
Bupati Bima,
dalam sambutannya mengatakan, memimpin Kabupaten Bima yang amat luas ini
tidaklah mudah. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan semua pihak. Menjadi
pemimpin di era demokrasi dan keterbukaan informasi yang begitu pesat seperti
sekarang ini, haruslah melibatkan semua unsur atau dibutuhkan adanya kolaborasi
antara pemerintah, swasta, dan civil society dalam membangun daerah. Disamping
itu, katanya, seminar semacam ini juga dapat dijadikan ajang silaturrahim,
mencairkan suasana, dan menyatukan ide setelah selama ini kita hanya berdiskusi
atau berkicau melalui dunia maya yang syarat multitafsir, kritikan pedas,
ujaran kebencian, dan bahkan fitnah (Hoax).
Menurut Prof Hamdan, jalan terbaik untuk membangun daerah
adalah dengan melibatkan SDM yang dimiliki oleh Kabupaten Bima melalui dialog
dan masukan yang membangun. Tradisi dialog dan demokrasi tumbuh subur dan
dicontohkan oleh para sultan selama ratusan tahun yang lalu.
Seorang Sultan
tidak bisa mengambil keputusan sendiri tanpa ada musyawarah sebelumnya dari
seluruh unsur kesultanan. Katanya, terjadinya perang Ngali, Donggo, dan Dena
adalah bentuk perlawanan Rakyat terhadap Belanda, karena adanya kebijakan
Belanda yang mensengsarakan masyarakat Bima. Setiap ada kebijakan yang salah,
maka rakyat Bima pasti melawannya, inilah karakter dasar masyarakat Bima yang
diwarisi secara turun temurun.
Dalam kehidupan
masyarakat Bima selalu dilandasi oleh tiga pilar, yaitu Pemerintahan, Budaya,
dan Agama Islam. Jadi tidak ada perintah tanpa ada musyawarah atau Doho Mbolo.
Lebih lanjut
beliau mengatakan bahwa memimpin Kabupaten dan Kota Bima itu sederhana, yaitu
cukup mengumpulkan 100 orang dari berbagai unsur, baik kawan maupun lawan
politik untuk dialog, musyawarah atau Doho Mbolo. Satu tradisi yang mesti
diperhatikan oleh siapapun yang memimpin Kabupaten atau Kota Bima adalah
menjaga keseimbangan kosmis (sosio cosmis), dimana pemimpin dan masyarakat
tidak boleh berbuat kedholiman di Dana Mbojo, karena alamnya akan berontak yang
mengakibatkan bencana dan musibah yang besar. Budaya Maja Labo Dahu sangat
mengakar pada masyarakat Bima dahulu.
Wakil Ketua DPR
RI, Pak Fahri Hamzah menjelaskan bahwa kondisi nasional, sebagian besar elit
kita tidak memiliki kemampuan berpikir dan berkomunikasi, sehingga orientasinya
tidak jelas, pola kepemimpinannya tidak terarah, dan bahkan melahirkan
kecemasan ideologi, keraguan terhadap ulama, dan mencurigai umat islam sendiri.
Bayangkan, kalau ada orang yang fasih membaca Al Qur’an dan memiliki moral
agama dikatakan tidak cocok jadi pemimpin atau wakil rakyat. Ini benar-benar
menyesatkan umat Islam.
Fahri menghimbau
“Tolong Bantu Bupati dan Wakil Bupati” untuk membangun Kabupaten Bima. Kepada Bupati
dan Wakil Bupati, ia berpesan agar fokus melakukan hal-hal primer, seperti
membangun infrastruktur, dipastikan setiap tahun jalan tambah panjang dan transportasi
publik tambah baik, Pastikan tidak ada sungai dan got yang tersumbat, tidak ada
pengrusakan lingkungan, dan tenaga listrik atau jalan api terus menyala agar
masyarakat lebih sejahtera dan cerdas atau rasional. Katanya.
Lanjutnya,
untuk meminimalisir konflik harus perbanyak event olah raga dan menyalurkan
energi kelahinya masyarakat dengan menfasilitasi ring tinju agar menjadi atlet
yang mengharumkan nama Bima.
Dr Rusham
menjelaskan bahwa kita harus menata ekonomi dengan baik, seperti membuka
lapangan pekerjaan dan mengelola hasil pertanian dan perikanan. BUMD dan BUMDes
harus menjadi profit center bukan justru menggerogoti APBD. Tidak ada rumusnya
BUMD justru menghabiskan APBD. Setiap Desa atau paling tidak satu desa satu
Kecamatan memiliki BUMDes yang mengelola potensi yang dimiliki oleh desa
tersebut, misalnya memproduksi bawang goring yang dikemas untuk dipasarkan di
daerah atau diluar daerah. Sebenarnya potensi daerah Bima cukup banyak, tinggal
kesiapan dari SKPD, seperti di Bidang Pariwisata dan industri lainnya.
Nara sumber
lain, Dr Kadri menjelaskan untuk menggapai kemakmuran harus dipastikan
terciptanya kondisi aman di masyarakat. Faktor keamanan sangat penting untuk
mempercepat pembangunan dan membuat para investor mau berinvestasi di kabupaten
Bima. baik pada sektor pariwisata atau sektor yang lainnya. Katanya bahwa
potensi daerah akan dapat dioptimalkan kalau kita bisa merajut kebersamaan.
Pemimpin harus dapat dekat dengan rakyat, semua SDM harus berkolaborasi
membangun daerah. Akademisi, mahasiswa dan generasi muda harus bersinergi
dengan pemerintah, misalnya mewujudkan ekonomi kreatif dan lain lain.
Salah satu
peserta Syafrudin mengatakan, Potensi daerah kabupaten bima begitu luar biasa, SDA,
sejarah dan budaya yang luhur, disisi lain potensi SDM yang berkualitas baik
dalam daerah maupun di luar derah. “Pemerintah mestinya mengajak mereka untuk
merancang konsep dan program bersama SKPD setiap tahun. Kuncinya, SKPD tidak
boleh memiliki ego sektoral, tetapi harus merancang program prioritas. Meskipun
prioritasnya tidak banyak tapi sukses dan terlihat hasilnya,” katanya.
[Jr]

Post a Comment