Opini : Pada Waktunya Alam Akan Mengambil Kembali Semuanya
Jagung Untuk Ternak,
Banjir Untuk Manusia
'Politik
Buka Jalan Ekonomi' cukup ampuh, agar memudahkan masyarakat membabat hutan guna
tanam jagung. Yang penting masyarakat sejahtera meski nanti dilibas BENCANA
Rangga
Babuju
---------------------
Trauma akan banjir yang
menerjang akhir tahun 2016 hingga Maret 2017 bukan saja soal materi semata,
tetapi lebih pada soal kelelahan jiwa dan psikis yang luar biasa.
Tidak perlu saya
kisahkan bagaimana kacaunya psikis saat itu. Tak perlu saya
gambarkan bagaimana ratapan kehilangan yang
mendalam saat itu. Meski ini bukan soal kehilangan jiwa, tetapi kehilangan
banyak hal yang
dikumpulkan sepenuh jiwa bertahun-tahun lamanya.
Musim hujan itu dalam hitungan
Minggu akan datang lagi, trauma warga Kota Bima kembali dibangkitkan oleh awan
mendung meski hujan belum sepenuhnya tiba. Sementara mereka yang tak merasakan bagaimana kehilangan yang saya
sebutkan diatas, tak peduli lagi atas sebab
dan akibat banjir itu tercipta dan menerjang dengan deras.
Pemerintah masih sibuk
membuktikan janji dan harapannya meski Fakta jauh dari nyata, lebih-lebih impian bersama.
Pemerintah Kabupaten Bima tidak
merasa terlalu berdampak, meski aparaturnya merasakan lelah menghadapi secuil
air bah yang menghantam.
Kini, ibarat tak jera, 20.000
Hektar lahan pada 8 kecamatan di wilayah Kabupaten Bima dibuka baru
untuk Komoditi Jagung. Sementara atas nama komitment bersama, Kota Bima pun
ikut-ikutan
membuka 6.000 Hektar lahan untuk
Jagung, ditengah gundah gulana trauma warganya
yang tak berkesudahan
Tak sampai disitu, bibit Jagung
pun di BAGI GRATIS tanpa 'wajah berdosa' atas masa yang akan datang.
ADA APA DENGAN JAGUNG....??? Sudah
puluhan artikel dan berita yang
coba saya browsing 2 hr terakhir tentang
Jagung ini. Semuanya berisi tentang hal yang sama, yaitu kebutuhan Pakan
Ternak....!!! Whaaaatttt....???
Berikut pernyataan Ketua
Gabungan Perusahaan Makanan
Ternak (GPMT) Desianto B. Utomo yang
saya kutip dari www.bisnis.com bahwa,
pertumbuhan usaha pakan ternak mencapai 10%-12% selama tujuh tahun terakhir.
Hal ini didorong penambahan
populasi dari breeding farm, sehingga
membutuhkan pakan lebih banyak.
"Dengan daya beli yang
lebih baik turut mendorong permintaan dan konsumsi produk unggas. Pada 2020,
produksi pakan ternak diprediksi 27,6 juta ton per tahun,” ujarnya, Senin (17/4/2017).
Tiga pabrik Nasional dibangun
berkapasitas produksi rata-rata 300.000 - 500.000 ton per tahun dengan
investasi US$40-US$60 per ton. Pada tahun sebelumnya, empat pabrik pakan juga
dibangun yakni New Hope Group di Lampung dan Semarang, Malindo Feedmill di
Makasar, dan CJ Group di Semarang.
Meski demikian, industri pakan
sepanjang tahun ini menghadapi tantangan lebih berat karena ambisi Menteri
Pertanian Amran Sulaiman yang tidak mengizinkan impor jagung. Jagung
berkontribusi 50% bahan baku utama pakan ternak.
Lalu, Pemerintah daerah
berambisi mengizinkan para tani dan investor untuk menghabiskan lahan wilayah
tanpa Pemetaan 'Zona Areal' untuk tanam jagung. Ribuan hektar
hutan penyangga alternatif pun dibabat utk tanam jagung.
'Politik Buka Jalan Ekonomi'
cukup ampuh, agar memudahkan masyarakat membabat hutan guna tanam jagung. Yang penting masyarakat sejahtera
meski nanti dilibas oleh bencana.
Jagung kita tanam, dilahan kita
sendiri, lalu dijual dgn harga Rp 3.400 per kg kepada
perusahaan yang ditunjuk (diijinkan
oleh negara) kemudian kita beli kembali dengan harga Pakan (Bama) Rp 10.000
per kg. Tidak percaya...?? Silahkan jalan2 ke Toko Baba Ngohi depan Toko Lancar
Jaya - Kota Bima. Harga jagung giling yang
sudah
dipackig per 20 kg mencapai Rp 180.000 atau Rp 9.000 per kg. Kita di Nina
Bobokan oleh Program2 yg 'membinasakan' diri kita sendiri.
Akibat Hayalan kesejahteraan
dan Kemakmuran tanpa memikirkan Ekologi dan keseimbangan kehidupan manusia dan
alam. Kita habisi alam untuk pakan
hewan, hewan yang kita kasih makan kita
makan lagi dan sebagian dijual untuk kita makan, tetapi secara tidak langsung,
kita pun 'dimakan' oleh alam akibat ketidakseimbangan hidup.
Jika Kita 'Membunuh' dengan
merusak dan akhirnya kerusakan itu 'membunuh' kita, apa artinya semua hal yang dibangun, dicapai, dikejar
dan diimpikan selama ini.....????
KAPAN KITA AKAN SADARI....???
Yach, nanti, setelah banyak kematian akibat bencana. Kesadaran adalah solusi
paling sederhana namun harus
dibayar mahal, ketimbang membaca dan memaknai tulisan ini. Disetiap pojok
serambi untuk rembuk
soal ini, saya selalu
mendapati kesimpulan diskusi berjam-jam itu dengan
satu kalimat akhir, "Tanpa Korban jiwa yang
banyak, kita tak mungkin bisa merubah prilaku dan sistim yang membunuh ini". Yach,
dengan kematian, kita akan menyadarinya.
Kenapa hari ini kita masih
banyak yang anggap enteng bencana
Banjir yang lalu...?? Karena memang belum ada KEMATIAN yang menjadi Ujian ditengah cobaan
yang lalu.
Allah SWT masih memperingatkan, belum sepenuhnya melaknat seperti kaum Sodom, pengikut
Firaun maupun Penduduk pada jaman Nabi Nuh. Allah SWT masih menguji orang-orang yang berpikir.
Alam dirusak untuk jagung,
jagung dipanen untuk makan ternak, ternak besar dan dipanen untuk dimakan
manusia, Manusia pun 'dimakan' oleh alam dengan
caranya. Siklus kehidupan yang
disebut RANTAI MAKANAN....!!!??
Selamat Menyongsong BANJIR
TAHUNAN dalam hitungan beberapa minggu kedepan. BMKG telah me-Warning bhw
Intensitas Hujan tahun ini masih sama seperti tahun lalu. Sementara kerusakan
hutan penyangga tahun ini lebih parah dari tahun lalu. Hipotesanya
adalah.......??? (silahkan diisi menurut prespektif masing2.
Mari
berdoa sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan kita masing2. Urusan kejadian,
biarkan Tuhan yang Maha Tahu yang
mengaturnya. Berdoa mulaiiiiii......!!!

Post a Comment