Pembangunan Tugu Uma Me'e Menuai Kritik
![]() |
| Antara Tulip dan Tambulate |
Bima,
jerat.co.id - Pembangunan
taman kawasan Uma Me’e yang ada di Palibelo tepatnya di depan bandara
Muhammad Salahudin menuai kritik.
Pasalnya bangunan yang
berbentuk tugu dengan anggaran senilai
1.451.697.000.00 itu dianggap tidak sesuai spek dan estetika.
Bangunan yang telah berdiri kokoh tersebut dikerjakan oleh Cv Titian
Amanah dari Dana Alokasi Umum (DAU), sampai berita ini ditulis masih ramai diperbincangkan terutama terkait
pagar dan lambang dua kuncup bunga diatasnya.
Bagi sebahagian kalangan, pagar mengadopsi motif Belanda
demikian juga kuncup bunga serupa dengan bunga Tulip yang juga salah satu jenis
bunga yang melekat dengan negeri Belanda.
Furkan
salah satu pemuda asal Palibelo sabtu (6/1) menuding pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan anggaran yang
ada, “Secara fisik, bangunan tugu dan pagar sangat tidak sepadan dengan
anggaran yang angkanya fantastik,” katanya.
“Dari estetikanya, bangunan pagar menyerupai tanda salib,
demikian halnya dengan bunga tulip yang selalu digunakan oleh Belanda untuk
merayakan hari-hari besar,” tandas Furkan.
Ia menilai, kontroversi terkait pembangunan tugu dan
pagar Uma Me’e ini karena anggapan bahwa nilai budaya Bima yang terkesan
diabaikan, “Demi kewaspadaan dini meminta kepada
pemerintah daerah agar secepatnya mengganti Bunga
Tulip itu dengan Simbol daerah Bima atau minimal yang bersentuhan langsung dengan kearifan lokal,” tegas Furkan
Sampai berita ini diturunkan, polemik ‘Bunga’ terus
menjadi perdebatan. Keterangan lain mengatakan bahwa bunga tersebut adalah
Tambulate yang merupakan bunga yang tumbuh di dataran tinggi Donggo dengan
nilai simbol perjuangan rakyat Donggo.
[Ages]


Post a Comment